Confúcio (孔子, Kōshi) adalah seorang filsuf Tiongkok yang hidup di Tiongkok dari tahun 551 hingga 479 SM. Ajarannya, yang dikenal sebagai Konfusianisme (儒教, Jukyō), memiliki dampak mendalam tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga di Jepang.
Menurut tulisan-tulisan awal Jepang, ajaran ini diperkenalkan ke Jepang melalui Korea pada tahun 285 M. Beberapa prinsip Konfusianisme yang paling penting adalah kemanusiaan, kesetiaan, moralitas, dan pertimbangan.
Selama periode Tokugawa (1600-1868), Konfusianisme mencapai puncak pengaruh filosofisnya di Jepang. Terdapat pengaruh dominan pada masyarakat Jepang pada masa itu, dan pengaruhnya masih dapat dirasakan hingga saat ini.

Konfusianisme dalam masyarakat Jepang
Di Jepang, Konfusianisme adalah ajaran filosofis penting yang diperkenalkan pada awal peradaban dalam sejarah Jepang. Tidak seperti Buddha, yang berasal dari India, Konfusianisme terutama merupakan ajaran yang secara khas Tiongkok.
Ajaran ini menyebar dari dinasti Han di Tiongkok ke Korea, dan kemudian masuk ke Jepang melalui Semenanjung Korea. Konfusianisme melimpahkan ide-ide tinggi yang selalu menantang manusia untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan pemenuhan diri yang tertinggi. Nilai dan adat istiadat masyarakat Jepang sangat kuat dibangun di atas filosofi Confúcio.
Namun, sebagai doktrin politik dari elit yang berkuasa, Konfusianisme sering diekspresikan dengan cara yang sinis, jika tidak egois, yang menyangkal ide-ide itu sendiri. Mereka yang berada di puncak hierarki hanya memberikan dukungan verbal tetapi tidak mempraktikkan apa yang mereka beritakan.

Konfusianisme di Jepang saat ini
Di era modern, konsep-konsep Konfusianisme yang selalu tangguh memberikan dasar konseptual untuk mengintegrasikan sebagian besar pemikiran Barat. Pemikiran tentang diri sendiri, masyarakat, keluarga, dan politik.
Daripada menganggap bahwa sejarah sedang bergerak menuju tingkat yang semakin baik, para penganut Konfusianisme cenderung melihat ide-ide ideal di masa lalu. Pemikiran Konfusianisme adalah bahan bakar filosofis pada masa ketika Jepang adalah sebuah Shogunat.
Namun, pengaruh Barat yang datang dengan Restorasi Meiji akhirnya menghambat pengaruh Konfusianisme. Namun, ini bukanlah akhir dari filosofi ini di Jepang. Para idealis Restorasi, mempelajari filosofi Confúcio.
Namun, pada masa Restorasi, aspek filosofis, politis, dan sosial berhasil bertahan, meskipun diperkenalkannya kebijakan-kebijakan Barat.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar